Sabtu, 24 November 2012

BAHASA SEBAGAI ALAT KOMUNIKASI

Bahasa merupakan sesuatu yang mendasari kehidupan. Dan bahasa merupakan komponen yang paling penting dalam kelanjutan hidup manusia. Segala aktifitas yang kita lakukan harus diawali dengan bahasa. Manusia tidak akan melanjutkan hidup ini dengan baik dan teratur tanpa adanya bahasa. Bisa dikatakan bahwa bahasa sebagai bagian dari kebutuhan primer, sebagai pengatur, bahkan sebagai senjata yang paling ampuh untuk membentengi diri dari sesuatu. 

Bahasa adalah alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Bahasa memberikan kemungkinan yang yang jauh lebih luas dan kompleks dari pada yang dapat diperoleh dari benda lain seperti lukisan, bunyi gendang atau tong-tong dan segainya. Bahasa haruslah merupakan bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Bukan dari sembarang bunyi. 

Komunikasi merupakan akibat yang lebih jauh dari ekspresi diri. Komunikasi tidak akan sempurna bila ekspresi diri kita tidak diterima atau dipahami oleh orang lain. Dengan komunikasi kita dapat menyampaikan semua yang kita rasakan, pikirkan, dan kita ketahui kepada orang-orang lain. Sebagai alat komunikasi, bahasa merupakan saluran perumusan maksud kita. Bahasa akan menghasilkan perasaan kita dan memungkinkan kita menciptakan kerja sama dengan orang lain. Sebagai atal komunikasi, bahasa merupakan saluran perumusan maksud kita, melahirkan perasaan kita dan memungkinkan kita menciptakan kerja sama dengan sesama warga. 

 Beberapa fungsi bahasa sebagai alat komunikasi :
1.      Bahasa merupakan akibat yang lebih lanjut dari ekspresi diri.
2.      Komunikasi tidak akan sempurna apabila ekspresi diri kita tidak dapat diterima atau dipahami.
3.      Bahasa sebagai alat komunikasi merupakan alat untuk merumuskan maksud dan tujuan kita.
4.      Dengan komunikasi, kita dapat mempelajari dan mewarisi semua yang pernah dicapai oleh nenek moyang kita dan apa yang telah dicapai oleh orang-orang sejaman kita. 

Di era globalisasi saat ini, seiring dengan lanjutnya perkembangan teknologi dan informasi sangat mempengaruhi penggunaan bahasa sebagai media komunikasi, ada dua sisi yang mempengaruhi sistem komunikasi dibalik kencanggihan teknologi informasi yang juga bagian dari media komunikasi yang pertama adalah pengaruh positif dimana media teknologi informasi sangat memperlancar hubungan komunikasi antar sesama. Disisi yang lain majunya perkembangan teknologi informasi dalam tanda kutip sangat mencendrai kaida atau tata cara dalam berbahasa.

Bahasa sebagai alat atau perwujudan budaya yang digunakan manusia untuk saling berkomunikasi atau berhubungan, baik lewat tulisan, lisan, ataupun gerakan (bahasa isyarat), dengan tujuan menyampaikan maksud hati atau kemauan kepada lawan bicaranya atau orang lain. Melalui bahasa, manusia dapat menyesuaikan diri dengan adat istiadat, tingkah laku, tata krama masyarakat, dan sekaligus mudah membaurkan dirinya dengan segala bentuk masyarakat. 

Bahasa memiliki beberapa fungsi yang dapat dibagi menjadi fungsi umum dan fungsi khusus. Fungsi bahasa secara umum adalah sebagai alat untuk berekspresi, berkomunikasi, dan alat untuk mengadakan integrasi dan adaptasi sosial. Sedangkan fungsi bahasa secara khusus adalah untuk mengadakan hubungan dalam pergaulan sehari-hari, mewujudkan seni (sastra), mempelajari naskah-naskah kuno, dan untuk mengeksploitasi ilmu pengetahuan dan teknologi

Apabila teknik manusia bertambah serta kebudayaan dan kebutuhan manusia meningkat, maka bahasa itu turut pula berkembang untuk dapat menampung semua apa yang telah dicapai oleh umat manusia sehingga komunikasi tidak mengalami kemacetan.


Rabu, 21 November 2012

PERKELAHIAN ANTAR PELAJAR



Setiap orang tua pasti menginginkan anak-anaknya berperilaku baik dan mendapat banyak prestasi disekolahnya. Tetapi bagaimana jika anak tersebut malah melakukan hal yang memalukan, atau bahkan sampai melakukan tindak kejahatan. Hal memalukan dan merugikan yang sering dilakukan oleh para pelajar adalah tawuran. Banyak yang mengatakan bahwa berkelahi adalah hal yang wajar pada remaja. Kata siapa?

Tawuran atau yang kita bisa sebut sebagai perkelahian, sangat sering terjadi diantara pelajar. Bahkan, bukan hanya diantara para pelajar SMA, tetapi sudah sampai ke jenjang Universitas. Disebagian kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan, tawuran ini sering sekali terjadi. Menurut data Bimmas Polri Metro Jaya di Jakrta misalnya, tahun 1992 tercatat 157 kasus perkelahian pelajar. Tahun 1994 meningkat menjadi 183 kasus dengan menewaskan 10 pelajar, tahun 1995 terdapat 194 kasus dengan korban meninggal 13 pelajar dan 2 anggota masyarakat lain. Tahun 1998 da 230 kasus yang menewaskan 15 pelajarserta 2 anggota polri dan tahun berikutnya meningkat menjadi 37 korban tewas. Terlihat dari tahun ke tahun jumlah perkelahian dan korban cenderung meningkat. Bahkan sering tercatat dalam satu hari terdapat tiga perkelahian di tiga tempat sekaligus. 

Dalam pandangan psikologi, setiap perilaku merupakan interaksi antara kecenderungan didalam diri individu dan kondisi eksternal. Begitu juga dalam hal perkelahian pelajar. Bila dijabarkan, terdapat sedikitnya empat faktor psikologis mengapa seorang remaja terlibat perkelahian pelajar, yaitu : 

1.      Faktor Internal
2.      Faktor Keluarga
3.      Faktor Sekolah
4.      Faktor Lingkungan

Pandangan umum terhadap penyebab perkelahian pelajar atau tawuran agak sedikit keliru. Sering dikatakan, pelajar yang berkelahi berasal dari sekolah kejuruan, berasal dari keluarga yang ekonominya rendah. Namun dari data di Jakarta tidak mendukung akan hal tersebut. Dari 275 sekolah yang sering terlibat perkelahian 77 diantaranya adalah sekolah menengah umum. Begitu juga dari tingkat ekonominya, ada sebagian pelajar yang sering berkelahi berasal dari keluarga yang mampu. Tuduhan lain juga sering diberikan ke sekolah yang dirasa kurang memberikan pendidikan agama dan juga moral yang baik.


Nyatanya, penyebab perkelahian pelajar tidaklah sesederhana itu. Terutama dikota besar seperti Jakarta, yang memiliki masalah yang sedikit kompleks, meliputi faktor sosiologis, budaya, psikologis, juga kebijakan pendidikan atau kurikulum yang padat, serta kebijakan publik lainnya seperti angkutan umum dan tata kota. Secara psikologis, perkelahian yang melibatkan pelajar usia remaja digolongkan sebagai salah satu bentuk kenakalan remaja (juvenile deliquency). Kenakalan remaja, dalam hal perkelahian, dapat digolongkan ke dalam 2 jenis delikuensi yaitu situasional dan sistematik. 

Cara Mencegah Tawuran Antar Pelajar :
1.      Para Siswa wajib diajarkan dan memahami bahwa semua permasalahan tidak akan selesai jika penyelesaiannya dengan menggunakan kekerasan.
2.      Lakukan komunikasi dan pendekatan secara khusus kepada para pelajar untuk mengajarkan cinta kasih.
3.      Pengajaran ilmu beladiri yang mempunyai prinsip penggunaan untuk menyelamatkan orang dan bukan untuk menyakiti orang lain.
4.      Ajarkan ilmu sosial Budaya, ilmu sosial budaya sangat bermanfaat untuk pelajar khususnya, yaitu agar tidak salah menempatkan diri di lingkungan masyarakat.
5.      Tindakan kekerasan pasti akan menular, Pihak yang berwenang haruslah tegas memberikan sanksi untuk pelaku tindak kekerasan.

Banyak hal yang bisa dilakukan oleh pelajar untuk hal-hal yang positif. Semoga dengan melakukan hal-hal yang posotif bisa menyadarkan mereka bahwa perkelahian tidak akan menguntungkan siapa-siapa.


Kamis, 15 November 2012

KERUSUHAN ANTAR WARGA



Masyarakat adalah sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup atau semi terbuka, dimana sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut. Masyarakat juga bisa diartikan sebuah komunitas yang saling bergantung satu sama lain, umumnya istilah masyarakat digunakan untuk mengacu sekelompok orang yang hidup bersama dalam komunitas yang teratur. Masyarakat sering diorganisasikan berdasarkan cara utamanya dalam bermata pencaharian. Menurut Syaikh Taqyuddin An-Nabhani, sekelompok manusia dapat dikatakan sebagai sebuah masyarakat apabila memiliki pemikiran, perasaan, serta sistem atau aturan yang sama. Dengan kesamaan-kesamaan tersebut, manusia kemudian berinteraksi sesama mereka berdasarkan kemaslahatannya. Kondisi masyarakat Indonesia yang mejemuk berpotensi menimbulkan konflik. Perbedaan agama, suku, budaya, adat dan hal lainnya juga merupakan alasan sering terjadinya perpecahan antara masyarakat satu dengan yang lain atau sekelompok masyarakat satu dengan sekelompok masyarakat yang lain. 

Hal ini seperti yang terjadi di Lampung Selatan, Lampung. Bentrokan itu pertama kali terjadi Sabtu 27 Oktober 2012 pukul 23:00. Menurun informasi yang didapat, bentrokan itu terjadi antar warga Desa Agom, Kecamatan Way Kalianda dengan Desa Balinuraga, Kecamatan Way Panji, Lampung Selatan. Bentrokan itu bermula dari dua gadis asal Desa Agom yang mengendarai sepeda motor diganggu pemuda asal Desa Balinugara hingga jatuh dan mengalami luka-luka. Sebelum terjadi bentrokan, sebenarnya antar kepala desa sudah mengadakan perjanjian damai. Namun keluarga kedua gadis itu tidak terima. Mereka mendatangi desa Balinuraga untuk menemui pemuda yang menggagu itu. Namun, saat tiba di desa tersebut mereka langsung diserang dengan senjta api, akibatnya satu orang tewas tertembak. Pada minggu 28 Oktober bentrokan kembali terjadi yang menyebabkan tiga orang tewas. Insiden tersebut juga menyebabkan puluhan yang lain luka-luka. 

Bentrok yang terjadi sebenarnya hanya dikarenakan hal yang sangat sepele, mungkin adanya provokator yang membuat konflik ini semakin membesar. Sebenarnya konflik antar warga semacam itu bisa dicegah dengan rasa kesetiakawanan antar umat beragama, dan  kerukunan yang bisa dibentuk. Apalagi bentrok antar warga di Lampung ini  terjadi di satu Provinsi yang kemungkinan besar mereka memiki banyak kesamaan. Kesamaan beragama, berbudaya, adat, dan berbahasa. Saharusnya bentrok antar warga semacam itu tidak boleh terjadi. 

Menghargai sesama budaya Seperti apa yang dikatakan oleh Presiden kita, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono “Menuju Indonesia yang makin maju ditandai dengan kehidupan masyarakat yang rukun dan bersatu. Kita wujudkan Indonesia  yang benar-benar maju. Marilah kita tetap rukun, bersatu dan bersama-sama menuju kehidupan yang labih baik”. SBY juga menambahkan dua syarat agar masyarakat bisa terus hidup rukun. 

1.      Syarat rukun kompak dan penuh persaudaraan.
2.      Mau berikhtiar  dan bekerja keras untuk memajukan negeri yang kita cintai ini. 


Selain itu, perlu juga harmoni antar warga dengan saling menghormati dan tanpa diskriminasi. Kehidupan yang baik juga harus diperkokoh dengan rasa kesetiakawanan. Kesetikawanan itulah yang mesti kita tegakkan. Kesetiakawanan dapat diwujudkan dengan maju membantu sesame. Yang sudah maju membantu yang belum maju. Yang kuat melindungi yang lemah. Kalau itu dapat dijalankan secara bersama, maka itulah tujuan yang hendak kita tegakkan. 


BUDAYA ORGANISASI TERHADAP KINERJA KARYAWAN

 Sebuah perusahaan wajib memiliki  budaya yang berorientasi pada pelanggan, pemegang saham dan karyawan serta kepemimpinan manajerial di semua tingkatan agar mampu mengungguli perusahaan yang tidak memiliki budaya semacam itu. Budaya berorganisasi mampu berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja ekonomi jangka panjang, dan  bisa menjadi faktor kunci yang menentukan sukses atau tidaknya perusahaan pada masa yang akan datang. Meski sulit diubah, budaya berorganisasi bisa dibuat sedemikian rupa sehingga lebih mendukung kinerja. 

Budaya organisasi dapat membantu kinerja karyawan, karena akan menciptakan suatu tingkat motivasi yang luar biasa bagi karyawan untuk memberikan kemampuan terbaiknya dalam memanfaatkan kesempatan yang diberikan oleh organisasinya. Nilai-nilai yang dianut bersama, membuat karyawan merasa nyaman bekerja, memiliki komitmen dan kesetiaan serta membuat karyawan berusaha lebih keras, dan member kepuasan terhadap kerja karyawan serta mempertahankan keunggulan kompetitif. 

Dalam mewujudkan budaya organisasi yang cocok diterapkan pada sebuah organisasi, maka diperlukan adanya dukungan dan partisipasi dari semua anggota yang ada dalam ruang lingkup organisasi tersebut. Para karyawan membentuk persepsi keseluruhan berdasarkan karakteristik budaya organisasi yang antara lain meliputi inovasi, kemantapan, kepedulian, orientasi hasil, orientasi tim, perilaku pemimpin, karakteristik tersebut terdapat dalam sebuah organisasi atau perusahaan mereka. Persepsi karyawan mengenai kenyataan terhadap budaya organisasinya menjadi dasar karyawan berperilaku. Dari persepsi tersebut memunculkan suatu tanggapan berupa dukungan pada karakrteristik organisasi yang selanjutnya mempengaruhi kinerja karyawan ( Robbins; 1996). 

Pada tahun 2002 dalam sebuah hasil analisis menunjukkan bahwa keseluruhan variabel budaya organisasi (inovasi, kemantapan, kepedulian, orientasi hasil, perilaku kepemimpinan, orientasi hasil dan orientasi tim) baik secara bersama-sama maupun perseorangan mampu memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kinerja karyawan. 

Hal yang sama dikatakan pada hasil penelitian Chatman dan Bersade (1997) dalam Sutikno (2006) yang mengungkapkan bahwa budaya organisasi yang kuat dapat membantu kinerja karyawan dan kinerja perusahaan, karena akan menciptakan sesuatu yang luar biasa dalam diri karyawan, dan memberikan struktur dan kontrol yang dibutuhkan tanpa harus bersandar pada birokrasi yang formal dan kaku, yang dapat menekan tumbuhnya motivasi dan inovasi karyawan. 

Menurut Schein (1996) kegagalan yang paling mencolok dari sistem penilaian kinerja adalah karena sistem yang sangat sederhana tidak mengakui realitas pekerjaan dan budaya organisasi. Seharusnya, penilaian kinerja dikaitkan dengan budaya organisasi sehingga dapat digunakan sebagai alat untuk mengungkapkan seberapa baik karyawan berkinerja sesuai dengan budaya organisasi. Sistem penilaian kinerja dapat membantu menemukan dan merumuskan aspek-aspek penting dari budaya dengan spesifikasi perilaku dan kompetensi yang diperlukan untuk menyumbang keberhasilan organisasi, unit, kelompok, atau posisi. Jadi, sistem penilaian yang baik seharusnya digunakan sebagai alat untuk mengungkapkan, mempengaruhi dan memperkuat budaya organisasi. 
 

Senin, 01 Oktober 2012

Perkenalan ^_^

halo nama saya Devi Rosdiyana, lahir di Jakarta 9 Desember 1994. hehe saya sekarang menjadi seorang mahasiswa di Universitas Gunadarma.